Happy Cat Kaoani

Tampilkan postingan dengan label amerika serikat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label amerika serikat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Oktober 2016

Kisah Si Pohon Hannoki (Bagian Kedua) oleh Sukeyuki Imanishi

Tersebutlah sebatang pohon Hannoki yang tumbuh di lapangan tempat latihan militer di kota Hiroshima. Di suatu pagi musim panas, sebuah bom atom dijatuhkan di atas Hiroshima dan pohon itu pun miring. Pada siang hari lapangan itu dipenuhi dengan orang-orang yang terluka. Hiroshima terus terbakar hingga malam hari. Burung-burung yang sayapnya terbakar berdulang berjatuhan dari dahan-dahan si pohon Hannoki…

Pagi pun tiba. Satu hari telah berlalu, dan kebanyakan orang-orang di sekelilingku sudah meninggal. Parit pun kini dipenuhi jasad-jasad yang saling bertumpuk satu sama lain. Sepanjang malam dalam mimpiku, aku mendengar suara bayi menangis. Tapi ternyata itu bukan mimpi, benar-benar ada sesosok bayi di dekat akarku. Entah kapan mereka sampai di situ. Si bayi ada dalam gendongan ibunya. Si ibu memakai sepatu kanvas dan celana kerja. Tidak kelihatan ada luka di tubuhnya, tapi ada handuk melilit di kepalanya. Bayi itu menempel di dada ibunya. Kelihatannya saja si ibu tidak terluka, tapi ternyata ia luka parah di kepala. Nampaknya ia kesulitan melihat.
"Mii-chan…Mii-chan…kau Mii-chan kecilku, kan?" ia terus menggumam. Ibu itu pasti meninggalkan bayi perempuan yang dipanggilnya ‘Mii-chan’ itu di rumah, lalu pergi keluar. Mungkin tepat saat itu peristiwa mengerikan tadi terjadi. Ibu---yang tidak bisa melihat dengan sempurna---itu mungkin mencari-cari di halaman rumah mereka dan beruntung; atau mungkin dia menemukan bayi itu, yang telah diselamatkan orang lain di rumahnya yang hancur, lalu sambil menggendongnya, ia lari sampai sejauh ini. Tapi ia tidak bisa melihat jelas wajah bayi ini, dan itu membuatnya khawatir serta ketakutan. Untungnya wajah si bayi tidak terluka, ada sedikit saja luka bakar di pinggulnya, dan ia hanya memakai celemek yang lusuh.
Suara ibu yang memanggil-manggil, "Mii-chan…Mii-chan…" tidak lagi terdengar. Ia tertidur pulas. Bayinya pun mulai menangis. Ibunya terbangun dan kembali memanggil-manggil namanya. Perlahan-lahan sang ibu mulai kehilangan kesadarannya.
Matahari perlahan meninggi, menyebarkan teriknya yang terasa membakar. Erangan orang-orang yang tidak bisa bergerak itu terdengar makin keras. Bayi itu tiba-tiba menangis keras, tapi tidak ada yang menolongnya. Ibunya tidak lagi bergerak. Payudaranya, yang sedari tadi dihisap bayinya, kini sudah mengeras. Sang ibu meninggal dengan bayi masih berada di gendongannya.
"Tolong! Siapa pun yang masih bisa berjalan, tolong kesini…"
Seumur hidupku, tidak pernah aku melihat kengerian yang seperti ini.

***
Siang itu menjelang petang. Akhirnya datanglah regu penolong. Tapi saking banyaknya orang sudah meninggal daripada yang masih hidup, mereka lebih banyak datang untuk mengambil jasad-jasad itu daripada memberikan pertolongan. Serdadu-serdadu itu rupanya dari Angkatan Laut. Mereka mengibarkan bendera palang merah kecil di salah satu dahanku, lalu mendirikan dua tenda besar. Dokter militer memeriksa mata setiap orang yang tengah terbaring seperti sedang memilih-milih ikan saja. Hanya mereka masih bernapas yang dibawa ke dalam tenda. Bayi Mii-chan yang sedang berada di dekat akarku dipisahkan dari mendiang ibunya, dan dibawa ke tenda. Sejak saat itu, dari waktu ke waktu, aku bisa mendengar suara bayi dari dalam tenda itu. Setiap kali suara itu terdengar, aku merasa lega, karena Mii-chan kecil telah diselamatkan.
Setelah sekitar satu pekan, sebuah kendaraan dengan lambang palang merah datang, dan bayi itu dibawa pergi bersama orang-orang yang terluka; hanya jasad-jasad tak bernyawa yang ditinggalkan. Di malam hari suasananya sepi, tapi sepertinya masih ada korban yang selamat entah dimana, karena sesekali masih terdengar erangan-erangan pelan. Di siang hari, orang-orang berdatangan dari kota untuk mencari teman atau kerabatnya. Mereka akan membolak-balik jasad-jasad yang tertelungkup sambil bergumam, "Bukan dia, ini juga bukan…"
Sekitar akhir musim panas, nyaris semua daun-daunku mati dan gugur. Tapi aku berusaha keras untuk bertahan. Lalu di musim semi aku mengeluarkan tunas-tunas kecil, tapi meskipun tunas itu sempat tumbuh, musim dingin tiba.
Setahun berlalu, lalu dua tahun…
Lapangan tempat latihan ini berubah menjadi lahan pertanian. Dimana-mana berdiri rumah-rumah sementara. Di malam yang panas, tiap kali aku dengar suara bayi dari rumah-rumah itu, aku teringat pada ibu yang terus bergumam, "Kau Mii-chan kecilku, kan?" sampai menghembuskan napas terakhir. Tapi kebanyakan warga yang datang dan tinggal di sini adalah orang-orang yang datang dari jauh. Tidak ada yang tahu tentang hari yang nahas itu. Tapi tetap saja, kadang-kadang ada tulang-belulang yang digali dari tanah di sekitar sini, dan orang-orang pun akan ramai.
Aku sudah kembali sehat, tumbuh tinggi, dan kuat. Burung-burung berdatangan. Kumbang-kumbang tanduk panjang juga datang dan membangun sarang di batang pohonku.
***
Beberapa tahun telah berlalu. Aku dikelilingi oleh bangunan-bangunan apartemen beton. Sewaktu pembangunan dimulai, kupikir akhirnya aku akan ditebang. Tapi suatu hari salah seorang pengawas pembangunan datang menengokku dan berkata, "Dulu orang bilang pohon atau rumput tidak akan tumbuh di Hiroshima selama 75 tahun lagi." Aku jadi bertanya-tanya, apa orang itu kenal denganku---ketika aku masih berdiri tegak sendiri di lapangan tempat latihan militer itu? Apakah ia tahu tentang lapangan yang menakutkan di hari nahas itu? Mungkin orang itu yang membangun taman kecil di sekelilingku. Aku tidak tahu pasti. Tapi karena itulah aku masih terus bertahan.
Aku sedikit lebih tinggi dari bangunan apartemen tiga lantai. Setiap hari, aku mendengar suara-suara yang berbeda. Di musim panas, aku bisa melihat jelas ke dalam rumah-rumah itu. Di balik jendela-jendela yang bentuknya sama itu, hiduplah bermacam-macam orang yang bicara tentang hal-hal yang berbeda.
Anak itu. Ah, iya…aku kan mau bicara tentang anak itu, tapi malah jadi melantur kemana-mana. Jadi gadis kecil---yang rambutnya ia direlakan untuk dipotong oleh kumbang tanduk panjang---itu, aku merasa dia itu sebenarnya si Mii-chan kecil yang diselamatkan dari bawah batang pohonku di hari yang nahas itu. Gadis itu tinggal di lantai tiga bangunan apartemen---di sebuah kamar bagian paling timur. Sepertinya mereka satu keluarga yang terdiri dari tiga orang; ayah, ibu, dan si gadis kecil. Tapi entah kenapa, gadis kecil itu sepertinya lebih banyak tinggal di rumah. Ia juga tidak memanggil wanita di rumah itu dengan sebutan ‘ibu’, melainkan ‘bibi’. Apa si kecil itu tidak tahu dengan melihat semua batang dan dahan-dahanku? Pastinya tidak…
Anak laki-laki itu selalu datang bermain bersama seorang teman sekolahnya. Keluarganya berjualan sayur, jadi sepulang sekolah ia datang ke apartemen ini untuk mengantar sayur-sayuran dan kebutuhan lainnya.
"Selamat siang, Bu. Saya mengantar lobak daikon pesanannya."
Si anak laki-laki itu tahu betul kalau Mii-chan tinggal di rumah sendirian. Ia akan datang ke rumah ini paling akhir dan mengantarkan sayuran dengan mengucapkan kata-kata tadi.
"Selamat siang, Bu. Ini lobak daikon pesanannya."
Jawabannya selalu sama. "Kamu yakin lobak daikon ini tidak busuk?" Gayanya persis seperti seorang ibu rumah tangga.
Si anak laki-laki akan menjawab, "Oh tidak, Bu. Lobak ini sangat segar! Silahkan coba untuk makan malam nanti dan buktikan sendiri."
Lalu keduanya akan terbahak-bahak bersama. Anak laki-laki itulah yang selalu menemukan kumbang-kumbang tanduk panjang yang hidup di batang pohonku.
Suatu hari setelah mengantarkan sayuran, anak laki-laki itu datang dan memanggil, "Mii-chan… Mii-chan…ayo turun! Aku mau perlihatkan sesuatu yang menarik untukmu." Anak laki-laki itu memegang seekor kumbang tanduk panjang dengan titik-titik putih yang masih mengeluarkan bunyinya. Sejak itu, setiap kali ia datang, anak laki-laki itu akan memanggil turun Mii-chan, lalu membuat kumbang itu menggigiti rambutnya. Mii-chan awalnya akan menolak, tapi pada akhirnya lalu mengizinkan beberapa helai rambutnya digigit oleh kumbang itu. Tapi suatu hari, Mii-chan tidak lagi menolak sekali pun. Anak laki-laki itu---yang selalu berharap Mii-chan akan menolak dan lari---berkata, "Boleh aku membuat binatang ini memotong seluruh rambutmu?"
Mii-chan menarik keras beberapa helai ujung rambutnya dan berkata, "Boleh. Potong semua. Lebih banyak lagi."
Gadis itu terlihat lemah---yang belum pernah nampak sebelumnya. Mii-chan menatap anak laki-laki itu.
"Kau bodoh, Mii-chan. Ujung-ujungnya, kau nanti akan jadi pendeta!"
Bocah laki-laki itu menangis. Ia mendorong Mii-chan dan lari pulang tanpa menoleh sekali pun. Sejak saat itu, si anak laki-laki tukang sayur berhenti datang ke apartemen itu.
Satu bulan kemudian, Mii-chan tiba-tiba batuk berdarah karena udara dingin. Ia dibawa ke rumah sakit dan meninggal dunia

***
Si anak laki-laki penjual sayur mulai lagi mengirimkan sayur-sayuran ke apartemen itu hampir setiap hari. Di jalan pulang, ia akan berhenti di batang pohonku dan mencari kumbang tanduk panjang. Setiap kali ia menemukan seekor kumbang, ia akan membantingnya ke tanah sekuat tenaga sampai mati.
Pagi ini awan putih berarak di atasku. Itu pasti angin musim gugur. Seiring berjalannya waktu, aku semakin yakin kalau gadis itu pastinya Mii-chan…


Baca bagian pertama di sini.

Selasa, 09 Agustus 2016

Kisah Si Pohon Hannoki (Bagian Pertama) oleh Sukeyuki Imanishi

Awan putih berarak di atasku. Angin ini…pasti di akhir musim gugur. Aku paling suka ketika musim panas akan berakhir. Inilah musim ketika daun-daunku paling nampak berkilap---saat ini jadi nampak sangat tinggi  dan terbentang luas. Bumi di bawah nampak kecil dan indah seolah-olah dilihat dari ujung teropong yang salah. Hari ini anak-anak itu kembali bermain di sini. Mereka menangkap kamikirimushi (kumbang tanduk panjang) yang mereka temukan di batang pohonku. Kumbang ini punya gigi yang kuat.

“Satu saja! Boleh ya aku potong satu saja?” pinta si anak laki-laki seperti biasa.

“Cuma satu ya, tidak boleh lebih.”

Gadis kecil itu perlahan-lahan meraih sehelai rambutnya lalu direntangkan, sambil menatap si anak laki-laki. Anak itu lalu mengeluarkan kumbang kamikiri yang ditangkapnya tadi, dan membiarkannya menggigit sehelai rambut gadis itu. Sang kumbang mengeluarkan suara yang lirih (tidak dengan wujudnya) dan menggigit sehelai rambut gadis itu hingga menjadi potongan-potongan kecil.

“Satu lagi, ya! Boleh, ya?” si anak laki-laki kembali memohon.

“Jangan sampai dia memotong banyak-banyak,” kata gadis kecil itu sambil kembali mengulurkan rambutnya.

Entah kapan mereka pertama kali datang ke sini. Rasa-rasanya gadis kecil itu sudah pernah aku kenal dulu.

***
Dahulu kala, dulu sekali…

Waktu itu tempat ini masih padang rumput luas dan jadi tempat latihan para tentara. Tidak ada rumah, tidak ada jalanan, tidak ada kabel-kabel listrik. Di padang itulah aku berdiri sendiri. Sejak kapan ya? Bahkan aku sendiri tidak ingat. Waktu itu batang pohonku mungkin belum sebesar sekarang. Mungkin juga waktu itu aku belum setinggi sekarang. Di ujung sebelah selatan padang rumput tempat latihan itu ada stasiun Hiroshima, dan aku nyaris bisa melihat asap yang keluar saat kereta itu membunyikan peluitnya. Tampak kepulan asap putih, setelah itu terdengar bunyi mesin.

Saat itu gunung Fujiyama pastinya masih nampak dari stasiun. Gunung Futagayama juga pasti nampak di sisi yang lain, tapi aku tidak pernah ingat melihatnya. Aku masih ingat suara peluit uap di kejauhan. Jauh di ujung padang rumput yang luas itu…

Setiap hari, dari pagi sampai sore, tentara-tentara itu akan datang dan berlatih. Mereka datang berlarian ke arahku dari jarak yang sangat jauh---saking jauhnya sampai-sampai mereka kelihatan seperti biji-biji wijen. Mereka akan menyebar ke samping, berlari ke depan, lalu tiarap di atas tanah, kembali berlari, merunduk, dan bergerak menyerang ke depan. Sesekali akan terdengar suara seseorang, dan akan nampak pedang yang berkilat ditimpa cahaya matahari. Tidak lama kemudian mereka perlahan-lahan mulai mendekat dan akhirnya sambil mengeluarkan teriakan perang, mereka akan berlarian sambil saling menyerang di bawah batang pohonku.

Terdengar suara terompet dan latihan pun selesai. Para tentara itu berbaris lalu menumpuk senjata-senjata mereka seperti batang-batang korek api saja. Waktunya mereka istirahat. Tentara-tentara itu akan datang dan beristirahat di bawah bayang-bayangku yang rindang. Seragam-seragam warna khaki mereka nampak menebarkan keringat. Bau keringat dan kulit akan tercium dari bawah. Bahkan saat ini, di musim panas yang tenang---saking tenangnya sampai bisa terdengar suara dering yang tajam di telinga---terkadang aku masih bisa mengingat bau itu. Seperti kilasan balik atau mimpi. Bahkan ketika itu pun kumbang-kumbang kamikiri sudah sering bermain di batang pohonku. Mereka akan menangkapi kumbang-kumbang itu dan mengadunya. Para tentara di masa itu kepalanya botak, jadi rambut mereka terlalu pendek untuk bisa dipotong oleh kumbang itu. Tapi suatu hari, seorang tentara yang usil menarik kepala temannya, dan mencoba membuat kumbang itu memotong rambutnya. Yang ada kumbang itu malah sedikit demi sedikit menggigit kulit kepala tentara itu saat berusaha menggigiti rambutnya.

"Aduh, apa yang kau lakukan?"

Para tentara itu akan bergelut sambil bermain-main.

***
Serdadu-serdadu itu selalu pulang ke baraknya sambil menyanyikan sebuah lagu militer.

Di sini, di Manchuria, ratusan kilometer dari kampung halaman, disinari mentari merah yang tengah terbenam, temanku berbaring di bawah batu, nun jauh di ujung sebuah padang.

Aku suka sekali dengan nada di bagian lirik; temanku berbaring di bawah batu, nun jauh di ujung sebuah padang. Walaupun aku tidak tahu apa artinya, aku menyaksikan para serdadu itu kembali ke barak, menyanyikan setiap baris lagu tadi dua kali, dan kupikir lagu itu indah.

Aku membayangkan seperti apa suasana perang. Perang diterangi mentari merah yang sedang terbenam, kedengarannya indah. Tapi, itu dulu sekali. Aku tahu para serdadu itu, tapi aku tidak tahu apa itu perang. Beberapa tahun pun berlalu, entah berapa lama…

Mundurlah sedikit dan perhatikan batang pohonku. Akan kelihatan ia miring ke satu sisi dekat bagian akar. Ada yang bilang aku ini pohon buruk yang cacat, tapi tidak banyak orang yang tahu penyebabnya. Tidak ada lagi yang ingat. Di hari yang nahas itulah batang pohonku mulai miring.

***
Pagi itu senyap, embun bermunculan dan tidak ada angin. Sesaat setelah fajar menyingsing, terdengar satu kali raungan sirine. Sirine serangan udara yang memperingatkan adanya pesawat musuh yang mendekat. Tapi tidak ada yang berbeda di kota itu, juga di tempat-tempat lain. Ada satu orang yang berlari dari arah stasiun melintasi lapangan rumput tempat latihan. Ada juga yang sedang menyapu di undak-undakan batu di kuil yang terletak di kaki gunung Futagayama seperti biasa. Mungkin sudah sekitar dua jam berlalu tanpa terjadi apapun. Bahkan tak ada satu kereta pun yang lewat. Lalu sirine itu kembali meraung, mengabarkan kalau peringatan serangan udara sudah dicabut.

Lima atau enam serdadu berbaris cepat di barak yang kelihatan seperti gudang di ujung lapangan tempat pelatihan. Mereka mau pergi sarapan seperti biasa, meskipun sedikit terlambat gara-gara sirine serangan udara tadi. Hari itu pemandangannya biasa, tidak ada yang aneh. Tapi entah kenapa aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Di langit seharusnya sudah tidak ada lagi pesawat musuh, tapi ada pesawat kecil yang terbang ke arah kami, nampak bersinar seperti kertas kaca. Pesawat Jepang-kah? Pesawat itu terbang cukup tinggi. Saat melintas persis di atas Hiroshima, pesawat itu mengeluarkan kilauan sejenak, lalu mengubah arah. Tidak lama kemudian, cahaya memenuhi langit. warnanya merah muda pucat atau ungu, seolah-olah ada magnesium yang disulut persis di depan mata.

Aku tidak ingat apa-apa lagi. Semburan angin yang sangat kuat melewatiku dalam sekejap seolah mendorongku. Ah, aku jatuh! Itulah yang ada di pikiranku waktu itu.

Waktu aku tersadar, hari sudah siang. Badanku miring sampai ke akar. Semua daun-daunku menghadap ke selatan, warnanya jadi cokelat muda dan sakit. Langit pagi biasanya cerah sekali, tapi pagi ini semua berawan. Asap membumbung di seluruh penjuru kota. Sesaat aku sempat tidak menyadari apa yang ada di sekelilingku. Aku sedang berdiri di tengah neraka.

Lapangan tempat latihan penuh manusia. Nyaris tidak ada tempat berdiri. Mereka semua seperti monster; tanpa wajah, mata, mulut, atau telinga. Serdadu-serdadu itu bergeletakan tak bernyawa. Kaki-kaki telanjang mereka menyembul dari seragam yang compang-camping. Kuda-kuda berjalan terhuyung, dan jatuh. Bulu-bulu mereka terkelupas, yang nampak kulitnya saja. Tidak ada yang bicara, yang terdengar hanya rintihan dan erangan. Dari arah kota makin banyak orang berdatangan ke arah lapangan tempat latihan itu.

Di tengah-tengah lapangan itu, ada parit yang memanjang yang sengaja digali untuk latihan para serdadu. Parit itu kini penuh air berwarna merah keruh. Orang-orang yang tubuhnya terbakar dan kesakitan, merangkak ke arah parit mencari air, mencelupkan kepala di genangan air yang dangkal, lalu berhenti bergerak seolah mereka habis menelan racun yang keras sekali.

Matahari sudah terbenam, tapi langit masih merah dari api yang terus membakar kota itu. Warna merah di langit terpantul di permukaan air dalam parit sehingga kelihatan seperti sungai darah. Nanah yang mengalir dan nyaris menyembul dari kulit-kulit yang luka dan terbakar itu nampak mengerikan. Aku merasa lemah dan terus berpikir akan tumbang. Akarku yang paling tebal mungkin luka, karena rasa sakit ini terasa sampai ke ujung rantingku yang paling tinggi. Sesekali ada yang jatuh dari dahan-dahanku dengan bunyi gemerisik. Aku sempat bertanya-tanya apa itu. Ternyata burung pipit dan walet yang sayapnya terbakar, sampai-sampai mereka tidak bisa terbang. Tidak ada lagi sisa kekuatan mereka untuk terus bertengger di dahanku, dan akhirnya jatuh ke tanah.


Bersambung....

Selasa, 15 Desember 2015

QUANTICO: Mencari Musuh dalam Selimut

Poster Serial TV 'Quantico'
Serialnya baru berakhir Senin malam lalu di AXN. Oke, sebenarnya bukan episode terakhir sih, karena belum diungkap juga siapa teroris sebenarnya. Buat yang penasaran silahkan dipantau tanggal 7 Maret 2016 (lama ya?).

***
Ini merupakan salah satu serial yang populer di Amerika. Awalnya saya kira Quantico ada 'maknanya', tapi setelah browsing, ternyata itu adalah nama sebuah tempat di Virgina, Amerika Serikat.

Quantico sendiri bercerita tentang perekrutan calon agen FBI. Mereka ini dilatih di pangkalan Marine Corps yang letaknya di Quantico. Di serial ini penonton diajak melihat pelatihan mereka yang sangat berat. Mereka dituntut untuk selalu berada 'tujuh langkah' dari musuh. Tujuannya jelas, untuk melindungi Amerika Serikat dari musuh bernama teroris.

Serial ini juga menggambarkan multi-etnis yang direkrut untuk menjadi agen terhebat. Ada Alex Parrish (Priyanka Chopra), sang tokoh utama, yang berlatar belakang India; Nimah dan Raina Amin (Yasmine Al Massri), si kembar yang direkrut Miranda Shaw (Aunjanue Ellis)---direktur program pelatihan---yang dilatih untuk 'menyamarkan diri' sebagai seorang bernama Nimah; Simon Asher (Tate Ellington) yang seorang Yahudi dan lama menetap di Gaza; Shelby Wyatt (Johanna Braddy) yang orang tuanya tewas dalam tragedi 9/11 dan ahli menembak; dan masih banyak lagi.

Masing-masing memiliki agenda tersembunyi untuk memilih menjadi agen FBI. Seperti Natalie Vasquez (Anabelle Acosta), yang menjadi agen karena kenangan buruk di masa lalu dan karenanya ia membuat bekas luka palsu di belakang telinganya. Atau Ryan Booth (Jake McLaughlin) yang ternyata seorang agen FBI yang menyamar untuk memata-matai Alex Parrish, tetapi ia justru jatuh cinta padanya.
***
Bagi saya pribadi, serialnya sangat menarik dan layak ditonton. Serial ini seolah menyindir pemerintah untuk mewaspadai 'pegawai' yang mereka rekrut sendiri sebagai agen hebat agar tidak berubah menjadi 'monster' yang menakutkan. Selain itu, digambarkan pula bagaimana pertemanan yang kita jalin di asrama selama tujuh bulan tidak menjadi dasar untuk tidak mencurigai mereka sebagai tersangka teror. Penonton juga diajak untuk mencermati mereka, sebab semua masih terlihat 'abu-abu'. Masing-masing agen punya sisi tersembunyi yang belum banyak ditemukan oleh yang berwenang.

Dipilihnya Priyanka Chopra sebagai tokoh utama juga menarik, karena sang creator seolah ingin mengatakan bahwa terkadang kaum minoritas sering dituduh melakukan teror hanya berdasar 'bukti di lapangan'. 'Konflik' antara Yahudi-Muslim juga digambarkan melalui tokoh Nimah bersaudara dan Simon. As you knowYasmine ini berdarah Palestina (ayah) dan Mesir (ibu). Selain itu, disinggung pula soal 'agama tertentu' yang memilih melakukan teror sebagai alasan untuk 'memperjuangkan' sesuatu yang mereka yakini kebenarannya.

Sayang, alur cerita yang maju-mundur membuat penonton akan bingung. Jadi saya sarankan agar teman-teman menonton dari awal hingga akhir agar mengerti keseluruhan cerita.

Harapan saya, ke depan Indonesia juga akan membuat film atau drama sejenis. Terus terang, saya sebenarnya sudah bosan dengan cerita agen dari luar negeri. Oke, mungkin sifatnya memang rahasia. Tapi setidaknya bisa memberi kita sedikit gambaran soal aktivitas mereka. Atau jangan-jangan karena sistem keamanan kita yang masih rawan disusupi sehingga kurang pede untuk membuat film atau drama seperti ini?



BPN121615-09.04AM