Happy Cat Kaoani

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Oktober 2016

Kisah Si Pohon Hannoki (Bagian Kedua) oleh Sukeyuki Imanishi

Tersebutlah sebatang pohon Hannoki yang tumbuh di lapangan tempat latihan militer di kota Hiroshima. Di suatu pagi musim panas, sebuah bom atom dijatuhkan di atas Hiroshima dan pohon itu pun miring. Pada siang hari lapangan itu dipenuhi dengan orang-orang yang terluka. Hiroshima terus terbakar hingga malam hari. Burung-burung yang sayapnya terbakar berdulang berjatuhan dari dahan-dahan si pohon Hannoki…

Pagi pun tiba. Satu hari telah berlalu, dan kebanyakan orang-orang di sekelilingku sudah meninggal. Parit pun kini dipenuhi jasad-jasad yang saling bertumpuk satu sama lain. Sepanjang malam dalam mimpiku, aku mendengar suara bayi menangis. Tapi ternyata itu bukan mimpi, benar-benar ada sesosok bayi di dekat akarku. Entah kapan mereka sampai di situ. Si bayi ada dalam gendongan ibunya. Si ibu memakai sepatu kanvas dan celana kerja. Tidak kelihatan ada luka di tubuhnya, tapi ada handuk melilit di kepalanya. Bayi itu menempel di dada ibunya. Kelihatannya saja si ibu tidak terluka, tapi ternyata ia luka parah di kepala. Nampaknya ia kesulitan melihat.
"Mii-chan…Mii-chan…kau Mii-chan kecilku, kan?" ia terus menggumam. Ibu itu pasti meninggalkan bayi perempuan yang dipanggilnya ‘Mii-chan’ itu di rumah, lalu pergi keluar. Mungkin tepat saat itu peristiwa mengerikan tadi terjadi. Ibu---yang tidak bisa melihat dengan sempurna---itu mungkin mencari-cari di halaman rumah mereka dan beruntung; atau mungkin dia menemukan bayi itu, yang telah diselamatkan orang lain di rumahnya yang hancur, lalu sambil menggendongnya, ia lari sampai sejauh ini. Tapi ia tidak bisa melihat jelas wajah bayi ini, dan itu membuatnya khawatir serta ketakutan. Untungnya wajah si bayi tidak terluka, ada sedikit saja luka bakar di pinggulnya, dan ia hanya memakai celemek yang lusuh.
Suara ibu yang memanggil-manggil, "Mii-chan…Mii-chan…" tidak lagi terdengar. Ia tertidur pulas. Bayinya pun mulai menangis. Ibunya terbangun dan kembali memanggil-manggil namanya. Perlahan-lahan sang ibu mulai kehilangan kesadarannya.
Matahari perlahan meninggi, menyebarkan teriknya yang terasa membakar. Erangan orang-orang yang tidak bisa bergerak itu terdengar makin keras. Bayi itu tiba-tiba menangis keras, tapi tidak ada yang menolongnya. Ibunya tidak lagi bergerak. Payudaranya, yang sedari tadi dihisap bayinya, kini sudah mengeras. Sang ibu meninggal dengan bayi masih berada di gendongannya.
"Tolong! Siapa pun yang masih bisa berjalan, tolong kesini…"
Seumur hidupku, tidak pernah aku melihat kengerian yang seperti ini.

***
Siang itu menjelang petang. Akhirnya datanglah regu penolong. Tapi saking banyaknya orang sudah meninggal daripada yang masih hidup, mereka lebih banyak datang untuk mengambil jasad-jasad itu daripada memberikan pertolongan. Serdadu-serdadu itu rupanya dari Angkatan Laut. Mereka mengibarkan bendera palang merah kecil di salah satu dahanku, lalu mendirikan dua tenda besar. Dokter militer memeriksa mata setiap orang yang tengah terbaring seperti sedang memilih-milih ikan saja. Hanya mereka masih bernapas yang dibawa ke dalam tenda. Bayi Mii-chan yang sedang berada di dekat akarku dipisahkan dari mendiang ibunya, dan dibawa ke tenda. Sejak saat itu, dari waktu ke waktu, aku bisa mendengar suara bayi dari dalam tenda itu. Setiap kali suara itu terdengar, aku merasa lega, karena Mii-chan kecil telah diselamatkan.
Setelah sekitar satu pekan, sebuah kendaraan dengan lambang palang merah datang, dan bayi itu dibawa pergi bersama orang-orang yang terluka; hanya jasad-jasad tak bernyawa yang ditinggalkan. Di malam hari suasananya sepi, tapi sepertinya masih ada korban yang selamat entah dimana, karena sesekali masih terdengar erangan-erangan pelan. Di siang hari, orang-orang berdatangan dari kota untuk mencari teman atau kerabatnya. Mereka akan membolak-balik jasad-jasad yang tertelungkup sambil bergumam, "Bukan dia, ini juga bukan…"
Sekitar akhir musim panas, nyaris semua daun-daunku mati dan gugur. Tapi aku berusaha keras untuk bertahan. Lalu di musim semi aku mengeluarkan tunas-tunas kecil, tapi meskipun tunas itu sempat tumbuh, musim dingin tiba.
Setahun berlalu, lalu dua tahun…
Lapangan tempat latihan ini berubah menjadi lahan pertanian. Dimana-mana berdiri rumah-rumah sementara. Di malam yang panas, tiap kali aku dengar suara bayi dari rumah-rumah itu, aku teringat pada ibu yang terus bergumam, "Kau Mii-chan kecilku, kan?" sampai menghembuskan napas terakhir. Tapi kebanyakan warga yang datang dan tinggal di sini adalah orang-orang yang datang dari jauh. Tidak ada yang tahu tentang hari yang nahas itu. Tapi tetap saja, kadang-kadang ada tulang-belulang yang digali dari tanah di sekitar sini, dan orang-orang pun akan ramai.
Aku sudah kembali sehat, tumbuh tinggi, dan kuat. Burung-burung berdatangan. Kumbang-kumbang tanduk panjang juga datang dan membangun sarang di batang pohonku.
***
Beberapa tahun telah berlalu. Aku dikelilingi oleh bangunan-bangunan apartemen beton. Sewaktu pembangunan dimulai, kupikir akhirnya aku akan ditebang. Tapi suatu hari salah seorang pengawas pembangunan datang menengokku dan berkata, "Dulu orang bilang pohon atau rumput tidak akan tumbuh di Hiroshima selama 75 tahun lagi." Aku jadi bertanya-tanya, apa orang itu kenal denganku---ketika aku masih berdiri tegak sendiri di lapangan tempat latihan militer itu? Apakah ia tahu tentang lapangan yang menakutkan di hari nahas itu? Mungkin orang itu yang membangun taman kecil di sekelilingku. Aku tidak tahu pasti. Tapi karena itulah aku masih terus bertahan.
Aku sedikit lebih tinggi dari bangunan apartemen tiga lantai. Setiap hari, aku mendengar suara-suara yang berbeda. Di musim panas, aku bisa melihat jelas ke dalam rumah-rumah itu. Di balik jendela-jendela yang bentuknya sama itu, hiduplah bermacam-macam orang yang bicara tentang hal-hal yang berbeda.
Anak itu. Ah, iya…aku kan mau bicara tentang anak itu, tapi malah jadi melantur kemana-mana. Jadi gadis kecil---yang rambutnya ia direlakan untuk dipotong oleh kumbang tanduk panjang---itu, aku merasa dia itu sebenarnya si Mii-chan kecil yang diselamatkan dari bawah batang pohonku di hari yang nahas itu. Gadis itu tinggal di lantai tiga bangunan apartemen---di sebuah kamar bagian paling timur. Sepertinya mereka satu keluarga yang terdiri dari tiga orang; ayah, ibu, dan si gadis kecil. Tapi entah kenapa, gadis kecil itu sepertinya lebih banyak tinggal di rumah. Ia juga tidak memanggil wanita di rumah itu dengan sebutan ‘ibu’, melainkan ‘bibi’. Apa si kecil itu tidak tahu dengan melihat semua batang dan dahan-dahanku? Pastinya tidak…
Anak laki-laki itu selalu datang bermain bersama seorang teman sekolahnya. Keluarganya berjualan sayur, jadi sepulang sekolah ia datang ke apartemen ini untuk mengantar sayur-sayuran dan kebutuhan lainnya.
"Selamat siang, Bu. Saya mengantar lobak daikon pesanannya."
Si anak laki-laki itu tahu betul kalau Mii-chan tinggal di rumah sendirian. Ia akan datang ke rumah ini paling akhir dan mengantarkan sayuran dengan mengucapkan kata-kata tadi.
"Selamat siang, Bu. Ini lobak daikon pesanannya."
Jawabannya selalu sama. "Kamu yakin lobak daikon ini tidak busuk?" Gayanya persis seperti seorang ibu rumah tangga.
Si anak laki-laki akan menjawab, "Oh tidak, Bu. Lobak ini sangat segar! Silahkan coba untuk makan malam nanti dan buktikan sendiri."
Lalu keduanya akan terbahak-bahak bersama. Anak laki-laki itulah yang selalu menemukan kumbang-kumbang tanduk panjang yang hidup di batang pohonku.
Suatu hari setelah mengantarkan sayuran, anak laki-laki itu datang dan memanggil, "Mii-chan… Mii-chan…ayo turun! Aku mau perlihatkan sesuatu yang menarik untukmu." Anak laki-laki itu memegang seekor kumbang tanduk panjang dengan titik-titik putih yang masih mengeluarkan bunyinya. Sejak itu, setiap kali ia datang, anak laki-laki itu akan memanggil turun Mii-chan, lalu membuat kumbang itu menggigiti rambutnya. Mii-chan awalnya akan menolak, tapi pada akhirnya lalu mengizinkan beberapa helai rambutnya digigit oleh kumbang itu. Tapi suatu hari, Mii-chan tidak lagi menolak sekali pun. Anak laki-laki itu---yang selalu berharap Mii-chan akan menolak dan lari---berkata, "Boleh aku membuat binatang ini memotong seluruh rambutmu?"
Mii-chan menarik keras beberapa helai ujung rambutnya dan berkata, "Boleh. Potong semua. Lebih banyak lagi."
Gadis itu terlihat lemah---yang belum pernah nampak sebelumnya. Mii-chan menatap anak laki-laki itu.
"Kau bodoh, Mii-chan. Ujung-ujungnya, kau nanti akan jadi pendeta!"
Bocah laki-laki itu menangis. Ia mendorong Mii-chan dan lari pulang tanpa menoleh sekali pun. Sejak saat itu, si anak laki-laki tukang sayur berhenti datang ke apartemen itu.
Satu bulan kemudian, Mii-chan tiba-tiba batuk berdarah karena udara dingin. Ia dibawa ke rumah sakit dan meninggal dunia

***
Si anak laki-laki penjual sayur mulai lagi mengirimkan sayur-sayuran ke apartemen itu hampir setiap hari. Di jalan pulang, ia akan berhenti di batang pohonku dan mencari kumbang tanduk panjang. Setiap kali ia menemukan seekor kumbang, ia akan membantingnya ke tanah sekuat tenaga sampai mati.
Pagi ini awan putih berarak di atasku. Itu pasti angin musim gugur. Seiring berjalannya waktu, aku semakin yakin kalau gadis itu pastinya Mii-chan…


Baca bagian pertama di sini.

Selasa, 09 Agustus 2016

Kisah Si Pohon Hannoki (Bagian Pertama) oleh Sukeyuki Imanishi

Awan putih berarak di atasku. Angin ini…pasti di akhir musim gugur. Aku paling suka ketika musim panas akan berakhir. Inilah musim ketika daun-daunku paling nampak berkilap---saat ini jadi nampak sangat tinggi  dan terbentang luas. Bumi di bawah nampak kecil dan indah seolah-olah dilihat dari ujung teropong yang salah. Hari ini anak-anak itu kembali bermain di sini. Mereka menangkap kamikirimushi (kumbang tanduk panjang) yang mereka temukan di batang pohonku. Kumbang ini punya gigi yang kuat.

“Satu saja! Boleh ya aku potong satu saja?” pinta si anak laki-laki seperti biasa.

“Cuma satu ya, tidak boleh lebih.”

Gadis kecil itu perlahan-lahan meraih sehelai rambutnya lalu direntangkan, sambil menatap si anak laki-laki. Anak itu lalu mengeluarkan kumbang kamikiri yang ditangkapnya tadi, dan membiarkannya menggigit sehelai rambut gadis itu. Sang kumbang mengeluarkan suara yang lirih (tidak dengan wujudnya) dan menggigit sehelai rambut gadis itu hingga menjadi potongan-potongan kecil.

“Satu lagi, ya! Boleh, ya?” si anak laki-laki kembali memohon.

“Jangan sampai dia memotong banyak-banyak,” kata gadis kecil itu sambil kembali mengulurkan rambutnya.

Entah kapan mereka pertama kali datang ke sini. Rasa-rasanya gadis kecil itu sudah pernah aku kenal dulu.

***
Dahulu kala, dulu sekali…

Waktu itu tempat ini masih padang rumput luas dan jadi tempat latihan para tentara. Tidak ada rumah, tidak ada jalanan, tidak ada kabel-kabel listrik. Di padang itulah aku berdiri sendiri. Sejak kapan ya? Bahkan aku sendiri tidak ingat. Waktu itu batang pohonku mungkin belum sebesar sekarang. Mungkin juga waktu itu aku belum setinggi sekarang. Di ujung sebelah selatan padang rumput tempat latihan itu ada stasiun Hiroshima, dan aku nyaris bisa melihat asap yang keluar saat kereta itu membunyikan peluitnya. Tampak kepulan asap putih, setelah itu terdengar bunyi mesin.

Saat itu gunung Fujiyama pastinya masih nampak dari stasiun. Gunung Futagayama juga pasti nampak di sisi yang lain, tapi aku tidak pernah ingat melihatnya. Aku masih ingat suara peluit uap di kejauhan. Jauh di ujung padang rumput yang luas itu…

Setiap hari, dari pagi sampai sore, tentara-tentara itu akan datang dan berlatih. Mereka datang berlarian ke arahku dari jarak yang sangat jauh---saking jauhnya sampai-sampai mereka kelihatan seperti biji-biji wijen. Mereka akan menyebar ke samping, berlari ke depan, lalu tiarap di atas tanah, kembali berlari, merunduk, dan bergerak menyerang ke depan. Sesekali akan terdengar suara seseorang, dan akan nampak pedang yang berkilat ditimpa cahaya matahari. Tidak lama kemudian mereka perlahan-lahan mulai mendekat dan akhirnya sambil mengeluarkan teriakan perang, mereka akan berlarian sambil saling menyerang di bawah batang pohonku.

Terdengar suara terompet dan latihan pun selesai. Para tentara itu berbaris lalu menumpuk senjata-senjata mereka seperti batang-batang korek api saja. Waktunya mereka istirahat. Tentara-tentara itu akan datang dan beristirahat di bawah bayang-bayangku yang rindang. Seragam-seragam warna khaki mereka nampak menebarkan keringat. Bau keringat dan kulit akan tercium dari bawah. Bahkan saat ini, di musim panas yang tenang---saking tenangnya sampai bisa terdengar suara dering yang tajam di telinga---terkadang aku masih bisa mengingat bau itu. Seperti kilasan balik atau mimpi. Bahkan ketika itu pun kumbang-kumbang kamikiri sudah sering bermain di batang pohonku. Mereka akan menangkapi kumbang-kumbang itu dan mengadunya. Para tentara di masa itu kepalanya botak, jadi rambut mereka terlalu pendek untuk bisa dipotong oleh kumbang itu. Tapi suatu hari, seorang tentara yang usil menarik kepala temannya, dan mencoba membuat kumbang itu memotong rambutnya. Yang ada kumbang itu malah sedikit demi sedikit menggigit kulit kepala tentara itu saat berusaha menggigiti rambutnya.

"Aduh, apa yang kau lakukan?"

Para tentara itu akan bergelut sambil bermain-main.

***
Serdadu-serdadu itu selalu pulang ke baraknya sambil menyanyikan sebuah lagu militer.

Di sini, di Manchuria, ratusan kilometer dari kampung halaman, disinari mentari merah yang tengah terbenam, temanku berbaring di bawah batu, nun jauh di ujung sebuah padang.

Aku suka sekali dengan nada di bagian lirik; temanku berbaring di bawah batu, nun jauh di ujung sebuah padang. Walaupun aku tidak tahu apa artinya, aku menyaksikan para serdadu itu kembali ke barak, menyanyikan setiap baris lagu tadi dua kali, dan kupikir lagu itu indah.

Aku membayangkan seperti apa suasana perang. Perang diterangi mentari merah yang sedang terbenam, kedengarannya indah. Tapi, itu dulu sekali. Aku tahu para serdadu itu, tapi aku tidak tahu apa itu perang. Beberapa tahun pun berlalu, entah berapa lama…

Mundurlah sedikit dan perhatikan batang pohonku. Akan kelihatan ia miring ke satu sisi dekat bagian akar. Ada yang bilang aku ini pohon buruk yang cacat, tapi tidak banyak orang yang tahu penyebabnya. Tidak ada lagi yang ingat. Di hari yang nahas itulah batang pohonku mulai miring.

***
Pagi itu senyap, embun bermunculan dan tidak ada angin. Sesaat setelah fajar menyingsing, terdengar satu kali raungan sirine. Sirine serangan udara yang memperingatkan adanya pesawat musuh yang mendekat. Tapi tidak ada yang berbeda di kota itu, juga di tempat-tempat lain. Ada satu orang yang berlari dari arah stasiun melintasi lapangan rumput tempat latihan. Ada juga yang sedang menyapu di undak-undakan batu di kuil yang terletak di kaki gunung Futagayama seperti biasa. Mungkin sudah sekitar dua jam berlalu tanpa terjadi apapun. Bahkan tak ada satu kereta pun yang lewat. Lalu sirine itu kembali meraung, mengabarkan kalau peringatan serangan udara sudah dicabut.

Lima atau enam serdadu berbaris cepat di barak yang kelihatan seperti gudang di ujung lapangan tempat pelatihan. Mereka mau pergi sarapan seperti biasa, meskipun sedikit terlambat gara-gara sirine serangan udara tadi. Hari itu pemandangannya biasa, tidak ada yang aneh. Tapi entah kenapa aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Di langit seharusnya sudah tidak ada lagi pesawat musuh, tapi ada pesawat kecil yang terbang ke arah kami, nampak bersinar seperti kertas kaca. Pesawat Jepang-kah? Pesawat itu terbang cukup tinggi. Saat melintas persis di atas Hiroshima, pesawat itu mengeluarkan kilauan sejenak, lalu mengubah arah. Tidak lama kemudian, cahaya memenuhi langit. warnanya merah muda pucat atau ungu, seolah-olah ada magnesium yang disulut persis di depan mata.

Aku tidak ingat apa-apa lagi. Semburan angin yang sangat kuat melewatiku dalam sekejap seolah mendorongku. Ah, aku jatuh! Itulah yang ada di pikiranku waktu itu.

Waktu aku tersadar, hari sudah siang. Badanku miring sampai ke akar. Semua daun-daunku menghadap ke selatan, warnanya jadi cokelat muda dan sakit. Langit pagi biasanya cerah sekali, tapi pagi ini semua berawan. Asap membumbung di seluruh penjuru kota. Sesaat aku sempat tidak menyadari apa yang ada di sekelilingku. Aku sedang berdiri di tengah neraka.

Lapangan tempat latihan penuh manusia. Nyaris tidak ada tempat berdiri. Mereka semua seperti monster; tanpa wajah, mata, mulut, atau telinga. Serdadu-serdadu itu bergeletakan tak bernyawa. Kaki-kaki telanjang mereka menyembul dari seragam yang compang-camping. Kuda-kuda berjalan terhuyung, dan jatuh. Bulu-bulu mereka terkelupas, yang nampak kulitnya saja. Tidak ada yang bicara, yang terdengar hanya rintihan dan erangan. Dari arah kota makin banyak orang berdatangan ke arah lapangan tempat latihan itu.

Di tengah-tengah lapangan itu, ada parit yang memanjang yang sengaja digali untuk latihan para serdadu. Parit itu kini penuh air berwarna merah keruh. Orang-orang yang tubuhnya terbakar dan kesakitan, merangkak ke arah parit mencari air, mencelupkan kepala di genangan air yang dangkal, lalu berhenti bergerak seolah mereka habis menelan racun yang keras sekali.

Matahari sudah terbenam, tapi langit masih merah dari api yang terus membakar kota itu. Warna merah di langit terpantul di permukaan air dalam parit sehingga kelihatan seperti sungai darah. Nanah yang mengalir dan nyaris menyembul dari kulit-kulit yang luka dan terbakar itu nampak mengerikan. Aku merasa lemah dan terus berpikir akan tumbang. Akarku yang paling tebal mungkin luka, karena rasa sakit ini terasa sampai ke ujung rantingku yang paling tinggi. Sesekali ada yang jatuh dari dahan-dahanku dengan bunyi gemerisik. Aku sempat bertanya-tanya apa itu. Ternyata burung pipit dan walet yang sayapnya terbakar, sampai-sampai mereka tidak bisa terbang. Tidak ada lagi sisa kekuatan mereka untuk terus bertengger di dahanku, dan akhirnya jatuh ke tanah.


Bersambung....

Selasa, 22 Desember 2015

Ibu (Lanjutan Curhat 'Ayah' Sebelumnya)

Tidak bisa dipungkiri, sosok ibu memang memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam sendiri juga menegaskan bahwa ibu adalah orang yang harus diutamakan melebihi ayah, karena surga berada di bawah telapak kaki beliau.

Sosok ibu sendiri diidentikkan dengan kelembutan, kasih sayang, berusaha mengayomi dan melindungi anaknya. Tidak pernah sekali pun kulihat ada tulisan yang menjelek-jelekkan ibu, karena kemuliaan sifatnya.

Lalu bagaimana dengan ibuku?
***
Aku lahir jauh sebelum yang namanya Komisi Perlindungan Anak Indonesia berdiri. Sejak kecil, aku di-didik dalam lingkungan 'kekerasan adalah hal yang lumrah', sehingga tak heran aku kadang melihat kedua orangtua bertengkar hingga berakhir dengan saling melempar panci atau memecahkan piring.

Ibu juga kadang memukulku bila 'bandel'. Cubitan yang membiru, ditetesi minyak panas di lengan, ditelanjangi di depan pekarangan rumah (disaksikan oleh tetanggaku sendiri), kepala yang benjol karena dihantam ke lantai, dijejalkan cabe rawit ke mulut; adalah beberapa 'siksaan' yang kuterima di masa kecil (hingga hari ini, aku mencoba mengingat kesalahan apa yang telah kulakukan hingga ibu begitu murka. Namun sekeras apapun aku mencoba, yang terkenang hanya perbuatan itu)

Tidak hanya fisik, ibu juga sering menekanku secara mental. Sering ibu mengatakan bahwa aku adalah anak pembawa sial, sehingga alam bawah sadarku tanpa sadar menerima sugesti itu.

***
Memasuki masa SMP dan SMA aku menjadi 'liar'. Tanpa kusadari, aku kemudian tumbuh menjadi gadis yang tertutup dan pemarah. Kenangan masa kecil yang terus menghantui mungkin salah satu penyebabnya.

Seringkali juga hubunganku dengan ibu 'panas-dingin'. Ibu memang kadang memukulku bila aku 'melanggar aturan'
, tapi pukulan itu tak pernah lagi kurasakan sebagai rasa sakit, melainkan hanya kuanggap sebagai 'gertak-sambal.

Syukurnya
, meski hubunganku dengan ibu buruk, aku tak pernah 'kehilangan pegangan'. Bagiku, menerjunkan diri ke hal-hal negatif hanya akan merusak diri sendiri. Aku hanya ingin tahu mengapa ibu memperlakukanku begitu buruk semasa kecil.
***
Saat kuliah, aku sadar bahwa aku butuh pertolongan. Akhirnya kuputuskan untuk mencurahkan segalanya melalui tulisan. Memang sepele, tapi dampaknya mulai terasa. Perasaanku jauh lebih 'ringan'. Rasanya seperti mengangkat beban yang sangat berat, dan tubuh kembali ringan.


Pelan-pelan aku juga mulai menata hubungan yang baik dengan ibu. Tidak mudah memang, karena saat melihatnya masa-masa buruk itu kembali terulang. Ya, ironis memang bahwa sumber ketakutanku adalah ibuku sendiri.

Masa kecil memang tak akan bisa diulang, dan aku juga tidak ingin 'menuntut'. Aku hanya ingin bertanya, layakkah masa kecilku yang 'putih' harus diisi dengan kenangan 'hitam'?


Baca cerita sebelumnya di sini.



*)seperti dituturkan Ms. X di kota X via email

Selasa, 01 Desember 2015

Ayah

Apa yang ada di pikiranmu saat empat huruf itu disebutkan?

Sosok bertanggung jawab, bersedia berkorban untuk keluarga, menyayangi anaknya, perhatian, dan segala hal yang baik melekat pada dirinya. Memang tidak selamanya, tetapi setidaknya itulah gambaran umum yang kita temui dalam cerita dan kehidupan nyata.

Sering kita dengar bukan, kisah heroik tentang ayah? Yang rela menjual ginjal demi membiayai kuliah anaknya, yang mengorbankan nyawa agar anaknya bisa melanjutkan hidup...
Bagaimana dengan ayahmu?

Aku tersenyum getir. Perih rasanya jika harus mengeja kalimat itu. Terlebih, aku menyadari saat umurku menginjak 20-an awal...

***
Masa kecilku bisa dikatakan kurang bahagia. Ibu sering mengasariku secara fisik dan mental, sehingga aku tumbuh menjadi gadis yang pemarah dan kurang percaya diri. Satu-satunya pelarian yang paling membahagiakan bagiku adalah saat berada dalam pelukan ayah atau membaca sebuah cerita dari buku bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka untuk kelas III SD---kepunyaan kakak.

Karena pekerjaan ayah yang sering ke daerah-daerah terpencil, beliau sering meninggalkan kami beberapa minggu. Aku sering merengek untuk ikut, karena aku begitu takut tinggal bersama ibu. Tentu saja hal ini mustahil, sehingga seringkali aku tidak mau menemui ayah saat beliau pamit untuk berangkat.

Ayah bukannya tidak tahu kelakuan ibu. Seringkali beliau menegur, tetapi ibu berdalih bahwa apa yang dilakukan merupakan bagian dari pendidikan. Adu mulut pun tidak dapat dihindarkan. Karenanya, beliau memilih menghindari pertengkaran dengan tetap mengawasi kami---terutama aku.

***
Segalanya terlihat baik-baik saja, hingga suatu hari...

Aku telah menyelesaikan kuliah dengan hasil yang memuaskan. Ayah begitu bangga---sampai saat namaku diumumkan untuk menerima penghargaan sebagai wisudawan terbaik, aku melirik ayah yang duduk di kursi khusus orang tua wisudawan---sampai beliau meneteskan air mata haru.

Segala rencana telah kususun dengan matang. Saat kuutarakan niat untuk melanjutkan kuliah magister pada ayah, beliau menjawab ketus,"Mau ambil uang dari mana?!"

Hatiku rasanya sakit sekali. Aku tahu ayah memiliki uang. Beliau memiliki beberapa sawah di kampung, yang jika dijual hasilnya cukup untuk membiayai kuliahku. Lagipula aku yakin bisa memperoleh beasiswa magister, andai ayah mau berkorban sedikiiiiiiittt saja.

Dalam kekecewaan itu, aku memutuskan untuk pergi merantau. Di kota yang jaraknya 612,5 km dari kampung halamanku, aku tinggal dengan bibiku (kakak dari ibu). Dari beliau-lah aku tahu bahwa keluarga besar dari ayahku memang memiliki sifat yang seperti itu. Mereka hanya membanggakan harta mereka yang melimpah (dulunya mereka memang terkenal kaya-raya), tetapi hanya beberapa dari mereka (om, kakek, nenekku---anak dan saudara ayahku) yang berhasil menyelesaikan sekolah hingga tingkat sarjana. Nenek buyutku sangat pelit untuk mengeluarkan uang demi menyelesaikan sekolah. Mereka yang berhasil menyelesaikan sekolah murni karena usaha dan pengorbanan mereka sendiri---tanpa dibantu keluarga.

Lututku lemas. Seketika sekelilingku berubah warna menjadi monokrom, hitam-putih. Gambaran dan kenangan ayah semasa kecil seketika hilang, berganti dengan amarah dan kebencian. Mirisnya, kebenaran ini baru kuketahui saat aku dewasa.

Padahal ayah sedikit-banyak mengerti soal agama. Bukankah dalam kitab suci dikatakan orang-orang berilmu akan ditinggikan derajatnya? Bukan orang yang memiliki harta berlimpah? Apakah ayah melewatkan firman ini? Dan bagaimana mungkin ayah abai akan tanggung jawab? Bukankah beliau menikahi ibu karena ia ingin bertanggung jawab untuk memenuhi nafkah?

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk menjaga jarak. Beliau hingga saat ini terus menghubungiku, tapi aku tak ingin menyapa. Aku terlanjur terluka, dan entah sampai kapan aku bisa menerima beliau kembali...


*)seperti dituturkan Ms. X di kota X via email

Jumat, 08 Agustus 2014

Halte di bulan November

Bulan November, bulan yang syahdu karena hujan..

Aku akan pulang ke rumah ketika kurasakan tetesan air jatuh di bajuku. Awalnya aku tak menghiraukannya, tetapi semakin lama tetesan air itu berubah menjadi gerimis. Ketika aku sudah berada di halte untuk menunggu angkutan umum, gerimis itu pun dalam sekejap berubah menjadi hujan yang sangat deras---seolah-olah seseorang menumpahkan air dari langit dalam bentuk butiran yang jumlahnya tak terkira. Orang-orang yang tadinya berjalan kaki di trotoar berhamburan mencari tempat berlindung---di emperan toko atau di depan rumah seseorang. Begitu pula dengan pengendara motor yang lupa membawa jas hujan---buru-buru menghentikan kendaraannya untuk mencari tempat berlindung.

Di halte ini ada beberapa orang yang ikut berteduh. Selain aku, ada sepasang suami istri berusia paruh baya, tiga orang siswi SMA, dua orang pemuda berusia 20-an tahun, seorang murid SD (laki-laki), lima orang pegawai kantoran (tiga orang pria dan dua orang wanita), dan seorang pemulung (wanita) bersama seorang bocah laki-laki.

Beberapa dari mereka asyik dengan gadget masing-masing. Tiga orang siswi SMA itu misalnya, sedari tadi sibuk membaca sebuah artikel (entah apa) melalui tab kepunyaan salah seorang di antara mereka, kemudian asyik mendiskusikannya; sedangkan pegawai-pegawai kantoran asyik berdiskusi tentang status BBM yang diupdate oleh rekan kerja mereka semalam---sambil melihat handphone salah seorang rekan kerjanya yang wanita (aku tak menangkap jelas status apa tepatnya); dan murid SD yang sibuk memainkan game yang---lagi-lagi---aku tak tahu apa. Selebihnya sibuk dengan pemikiran masing-masing.

***

Aku menatap tetesan air dari langit. Sudah 15 menit berlalu, tapi hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Aku gelisah. Setengah jam lagi aku ada janji dengan Fara, teman kosku, untuk membantu dia mengetik skripsinya. Dia tak terlalu mahir menggunakan komputer, sehingga butuh bantuanku.

Orang-orang di halte mulai gaduh. Ibu yang seorang pemulung itu beberapa kali mendiamkan anaknya, mungkin lapar. Kuraba-raba tasku, mungkin ada sebungkus wafer atau roti yang biasa kuselipkan jika aku tak sempat membuat bekal makan siang. Tak ada apapun, aku membatin. Sementara sepasang suami istri itu terlihat terkantuk-kantuk, mungkin karena suasana syahdu akibat hujan. Kedua pemuda yang berusia 20-an mulai terlihat asyik mengobrol, kelihatannya mereka saling kenal. Sedangkan yang lain mengeluh dengan hujan yang belum juga reda.

Aku pun memejamkan mata sejenak. Berusaha menikmati tetesan air yang jatuh dari atap halte ke tanah---seolah-olah mereka sedang memainkan simfoni sederhana. Tik..tik..tik..tik..
...
Tahukah kamu kenapa Tuhan menciptakan hujan? Agar kesedihan manusia bisa terhapus melalui tetesan air yang menyejukkan. Bukannya Tuhan turut bersedih, tapi Ia ingin kalian menyadari bahwa serumit dan sesulit apapun masalahmu, Ia akan selalu ada mendampingimu---tanpa kamu sadari. Manusia mungkin bisa meninggalkanmu karena sebab, tetapi Ia tak pernah meninggalkanmu. Ingatlah itu...

Aku tersenyum simpul. Sudah lama rasanya suara itu tak kudengar..


***

Sejam kemudian...

Derasnya hujan yang sedari tadi mengguyur bumi berubah menjadi gerimis. Beberapa orang mulai meninggalkan halte. Si suami sudah mulai menstarter motornya, dan sedetik kemudian bergabung dengan pengendara lain di jalan raya, berboncengan dengan istrinya; begitu pula dengan kedua pemuda yang berusia 20-an, setelah sebelumnya saling bertukar nomor handphone. Pegawai kantoran dan rombongannya telah meninggalkan halte 10 menit lalu, sebab angkot yang mereka tunggu telah datang. Si ibu yang pemulung melanjutkan perjalanan ke arah utara, sambil menggendong bocah lelaki yang terlelap di pangkuannya. Sedangkan anak SD itu pergi ke arah selatan, sambil tetap bermain game di tangan.

Tinggal aku dan tiga orang siswi SMA yang masih berada di halte ini. Mereka tidak lagi melihat tab mereka, tapi memperhatikan kendaraan yang lewat---berharap angkot tujuan mereka lewat. Gerimis pun perlahan-lahan berubah menjadi tetesan-tetesan air. Aku sudah menelepon Fara, menjelaskan jika aku terlambat dan lima menit kemudian akan menuju kesana.

Angkot tujuan pun telah tiba. Aku pun bergegas naik, diikuti oleh siswi-siswi SMA tadi. Rupanya angkot tujuannya sama denganku. Di balik kaca yang berembun, kuperhatikan lagi halte tempat aku menunggu sedari tadi. Kosong. Penuh dengan jejak-jejak kaki berlumpur dan percikan air hujan---yang ada di dinding halte.
Seperti hati, yang dulunya dipenuhi perasaan berbunga-bunga, seketika kosong karena ia telah pergi meninggalkan kita dengan sejuta alasan. Yang tersisa darinya hanyalah nostalgia dan rasa sakit yang harus disembuhkan sendiri.
Dari balik kaca jendela angkot yang berembun, aku berusaha melukiskan dirimu. Apa kabar, kamu? Masih bahagiakah bersama pelukannya?

(Makassar, 8 Agustus 2014; pukul 04.30 a.m.)


lihat postingan aslinya di sini

Jumat, 02 Juli 2010

Pudarnya Pesona Cleopatra

Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Cetakan : II, Februari 2006
Jumlah Halaman : 111
Penerbit : Republika
Harga : Rp 21.000
ISBN : 979-3604-00-x


Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal. "Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu," kata ibu.

"Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu," ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku. Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai.

Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihan---benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Tante Lia mengakui Raihana cantik, "Cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli!" kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas Arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia. Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku.

Hari pernikahan datang. Duduk di pelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pesta pun meriah dengan empat grup rebana. Lantunan shalawat Nabi pun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayat-Nya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku adalah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.

Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihana pun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka dia pun tanya, tetapi kujawab, "Tidak apa-apa kok, Mbak. Mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga." Ada ke-kagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil 'mbak'.

"Kenapa Mas memanggilku 'Mbak', aku kan istrimu. Apa Mas sudah tidak mencintaiku?" tanyanya dengan guratan wajah yang sedih.
"Wallahu a'lam," jawabku sekenanya.

Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku. "Kalau Mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri, kenapa Mas ucapkan akad nikah? Kalau dalam tingkahku melayani Mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa Mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa Mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan Mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku di dunia ini." Raihana mengiba penuh pasrah.

Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku.

Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing. Tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku. Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis Maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas tidak apa-apa?" tanyanya dengan perasaan khawatir. "Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih," lanjutnya.

Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah siap," kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri di depan pintu membawa handuk. "Mas aku buatkan wedang jahe." Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. "Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak kayu putih, atau jamu?" tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar.

"Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas."
"Biasanya dikerokin," jawabku lirih. 
"Kalau begitu kaos Mas dilepas ya, biar Hana kerokin," sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. 

Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesaidikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al-Qur'an dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya. "Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu," kata Ratu Cleopatra. "Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu."

Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian. Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba, "Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum shalat Isya," kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. "Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum shalat Isya," lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun hanya mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka dengan dirinya, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk shalat Isya?

Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.

"Mas, nanti sore ada acara aqiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang." Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada zaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja.

"Ma....maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja.
"Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din...Dinda Hana!" panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan.
"Ya Mas!" sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil 'dinda'. Matanya sedikit berbinar.
"Te...terima kasih...Di...dinda, kita berangkat bareng kesana, habis shalat Dzhuhur, insya Allah," ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan. Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar di bibirnya. "Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar Dinda siapkan. Atau biar Dinda saja yang memilihkan ya?" Hana begitu bahagia.

Perempuan berjilbab ini memang luar biasa. Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah.Bah, lelaki macam apa aku ini?---kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.

Acara pengajian dan aqiqah putra ketiga Fatimah---kakak sulung Raihana---membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. "Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga!" sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan ibundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal. Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik di kampusnya dan hafal Al-Qur'an lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia. Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. "Sudah satu tahun putra sulungku menikah, kok belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu," kata ibuku. "Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?" sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.

Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis. Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya 'Mana tanggung jawabmu!' Aku hanya diam dan mendesah sedih. "Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta," gumamku.

Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta izin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia ke rumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal di kontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, "Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, nomor PIN-nya sama dengan tanggal pernikahan kita."

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.

Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu hari aku pulang kehujanan, sampai rumah hari sudah petang. Aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas di hati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum shalat Isya dan terlambat shalat Shubuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku tidak meninggalkan shalat Isya, dan tidak terlambat shalat Shubuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa Arab. Diantara tutornya adalah profesor bahasa Arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang Mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa Arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani.

"Apakah kamu sudah menikah?" kata Pak Qalyubi.
"Alhamdulillah, sudah," jawabku.
"Dengan orang mana?"
"Orang Jawa."
"Pasti orang yang baik, iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalihah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?"
"Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al-Quran."
"Kau sangat beruntung, tidak sepertiku."
"Kenapa dengan Bapak?"
"Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang."
"Bagaimana itu bisa terjadi?"
"Kamu tentu tahu gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona dengan kecantikannya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid---bagus, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia. Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantik itu. Saya bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia.

Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua. Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al-Azhar yang hafal Al-Qur'an,shalihah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan Yasmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin. Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar aset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. Kami langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali Yasmin tidak bisa. Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika sayapengin rendang, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia. Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir. Saya menyesal meletakkan kecantikan di atas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedi yang menyakitkan.

"Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir." kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal. Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membela diriku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang."

Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bulan aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap di hati. Dia istri yang sangatshalihah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala di dindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya. Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong....Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi...ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku dzhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah-lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.

"Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al-Qur'an. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok ke dalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba......" tulis Raihana.

Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa "Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku. Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau Maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau."

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angin sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihana tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan.

Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. "Mana Raihana Bu?" Ibu mertua hanya menangis dan menangis. 

Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.
"Raihana...istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya…."
"Ada apa dengan dia, Bu?"
"Dia telah tiada…."
"Ibu berkata apa?!"
"Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhainya…"

Hatiku bergetar hebat. "Ke...kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?"
"Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Jadi maafkanlah kami…."

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.


Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru di kuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua....... Gubraks! Gubraks! (TAMAT)