Happy Cat Kaoani

Senin, 27 Mei 2013

Uang Seratus Rupiah (Rp 100,00.-) Itu....

Suatu hari, saat sedang lari sore bersama kedua teman saya, nun jauh di seberang, saya melihat sesuatu yang berkilau (puitis abis. :P). Setelah memperhatikan dengan seksama, saya langsung bersorak kegirangan, "Yeeesssss!!!!!!" Segera saya berlari sekuat tenaga. Teman-teman saya juga ikut-ikutan berlari kencang di belakang.

Setelah sampai, saya pun memungut benda tersebut. Saya membersihkan sisa-sisa tanah yang melekat di benda tersebut dengan tangan, meniup-niupnya, kemudian menyimpannya di saku celana olahraga saya. Teman-teman saya----yang telat menyusul----berhenti di belakang saya. Sambil terengah-engah dan mengelap keringat, mereka bertanya,

"Oeee, kenapa ko tiba-tiba cepat sekali lari?"

"Ada cowok cakep iya lewat?"

"Mdd, cowok terus di otak na inee."

Saya dengan cuek menjawab, "Bukan, dapat ka uang tadi."

Teman-teman saya langsung antusias.

"Bagusnya itu rejekimu. Pertama kali ko lari sore langsung dapat uang."

"Ayo mii pale' makan pangsit deh. Lapar ka ine kasian. Dari siang belum makan."

"We Erdha, uang berapakah nu dapat?"

Saya pun celingukan, mencari tempat yang bagus untuk beristirahat. Aha!!! Ini dia!!! Sambil menuju sebuah taman depan sebuah kompleks perumahan, saya menjawab pendek, "Uang sibi'."

"Sibi'? Seratus rupiah?" tanya teman saya hampir bersamaan.

Saya mengangguk. "Kenapai?"

Teman saya saling pandang, kemudian tertawa terbahak-bahak. Saya heran, karena saya pikir tidak ada yang lucu. Setelah keduanya duduk bersebelahan----saya di pinggir mereka----mereka langsung membuka percakapan singkat.

"Deh, betul-betul ini anak. Nda ada sekali malu-malu na. Kah biar tommi itu uang seratus disitu. Mau ko apai, tidak ada mi permen harga seratus sekarang Erdha."

Mereka tertawa lagi. Kali ini lebih keras. Saya semakin cuek, malah makin tekun mendengarkan talkshow di sebuah radio swasta terfavorit di kota ini.

Menyadari bahwa saya semakin cuek, teman saya kemudian melepas headset di balik jilbab, kemudian berteriak, "Hooooiiii, nu dengar jeka?"

Saya menjauhi mereka sambil mengusap-usap kuping, merasa budek untuk sesaat, dan menjawab, "Iyo, kah tidak pake teriak di kuping ji kapang."

Teman saya tersenyum. Yang satunya kemudian bertanya, "Hobimu mungkin pungut uang seratus di jalan, makanya matamu terlatih ki untuk waspada."

Mereka berdua tertawa (lagi). Saya agak jengah juga, soalnya orang-orang mulai memperhatikan kami--utamanya teman-teman saya--. "We, bisa tidak kalo ketawa ko nda pake terbahak-bahak? Nda malu ko itu diliati orang dari tadi?" saya memperingatkan.

Mereka celingukan, dan kemudian menghentikan tawa mereka. Untuk menutupi rasa malu, mereka meminta saya mengeluarkan botol air minumnya. Saya membuka tas, dan menyerahkan dua botol air minum. Matahari sudah hampir tenggelam, jadi saya mengajak mereka berdua pulang.

Sambil berjalan, saya pun menjawab pertanyaan mereka, "Saya selalu ingat dengan nasihat orang bijak--saya lupa namanya--bahwa kita harus seperti buah kurma. Meskipun orang melempari dengan batu, dia (pohon kurma) tetap menghidangkan buah kurma yang ranum dan lezat untuk orang yang memetiknya."

"Sama juga dengan uang seratus. Meskipun dia sering diremehkan oleh orang kebanyakan, tetap ji juga dicari untuk melengkapi uangnya menjadi dua ribu rupiah, karena kalo cuma seribu sembilan ratus rupiah saja nilainya belum sama dengan dua ribu."

Mereka terdiam sejenak, sambil menekuri tanah yang berbekas jejak sepatu kets kami. Entah siapa yang mulai, tahu-tahu kami sudah saling berangkulan, dan kedua teman saya berkata dengan kompak, "Minta maaf ka nah kalo kata-kataku barusan menyakitkan."

Saya pun tersenyum. "It's okay, my friends."

Sinar matahari perlahan-lahan meredup, namun masih menyinari langkah kami menuju rumah dengan berangkulan pundak. *** 

Kode Smiley Untuk Komentar


:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t  

6 komentar: